Bangun Empat Kondotel, Kurnia Land Anggarkan Rp 1 Triliun

4Nama Kurnia Land Group bisa jadi kalah beken ketimbang raksasa-raksasa properti macam Agung Podomoro Group, Ciputra Group atau Sinar Mas Land Group.

Namun, pengembang yang dirintis sejoli Zaid Mahdani dan Henny Lim ini berani mengambil risiko menjadi spesialis pembangun kondominium hotel (kondotel).

Padahal, membangun dan memasarkan kondotel jauh lebih rumit dibandingkan apartemen strata atau rumah tapak (landed house).

Bukan saja karena skema investasinya yang berbeda dan memerlukan penanganan khusus, melainkan juga publik masih belum percaya seratus persen membenamkan uangnya untuk instrumen investasi satu ini.

Hal itu lumrah terjadi. Pasalnya, ada banyak kondotel yang dipasarkan lengkap dengan janji-janji muluk pengembalian investasi menggiurkan, namun pada kenyataannya tak kunjung dibangun.

Bahkan, ada beberapa proyek kondotel yang mangkrak dan dimejahijaukan sehingga pengembangnya berujung di kursi pesakitan.

Kondotel sendiri merupakan jenis kepemilikan properti yang difungsikan dan dikelola seperti hotel.

Nah, Kurnia Land Group tengah merintis bidang usahanya secara spesifik di sektor kondotel. Proyek perdananya adalah Sahid Eminence Ciloto Puncak, Jawa Barat.

Saat ini, proyek tersebut sudah memasuki tahap akhir. Dari total 379 unit yang dipasarkan kepada publik, 30 persen di antaranya ditahan Kurnia Land sebagai aset berkelanjutan.

Sementara sisanya atau 266 unit dipasarkan dengan patokan harga termurah Rp 1,8 miliar untuk tipe terkecil 41 meter persegi.

“Posisi aktual sudah terjual 80 persen. Tanggal 10 Noveember 2016 akan soft opening,” ujar Komisaris Utama Kurnia Land Group Henny Lim kepada Kompas.com, Senin (17/10/2016).

Menurut Henny, untuk membangun Sahid Eminence Ciloto ini, pihaknya merogoh kocek tak kurang dari Rp 300 miliar. Angka ini sudah termasuk akuisisi lahan seluas 6 hektar.

Proyek berikutnya yang akan dikembangkan adalah Sahid Cleveland Bandung. Kendati memiliki lahan seluas 6 hektar, namun tidak seluruhnya akan dikembangkan.

Hanya 15 persen dari total lahan yang akan menjadi kondotel sebanyak 370 unit. Sisa lahannya akan digunakan untuk ruang terbuka hijau (RTH) dan fasilitas eco-tourism.

“Kami menawarkan pengalaman berbeda kepada investor dan tamu pengunjung. Tak hanya kenyamanan kondotel, juga lingkungan sekitar yang dirancang asli sesuai dengan ‘habitat’-nya,” papar Henny.

Kurnia Land merogoh kocek Rp 200 miliar untuk mengembangkan Sahid Cleveland Bandung yang sampai saat ini masih dalam proses perizinan.

Untuk mendapatkan unit-unit tipikal dengan ukuran terkecil 35 meter persegi, investor harus membayar sekitar Rp 1 miliar.

Jaringan internasional

Berbeda dengan dua proyek kondotel yang dikelola jaringan hospitalitas domestik Sahid Group, dua proyek berikutnya yang akan dilansir pada akhir 2017 dan pertengahan 2018 adalah Sol House Jimbaran Bali dan Melia Bintan Kepulauan Riau dengan manajemen Melia Hotels International.

Alasan Henny memilih Melia Hotels International adalah karena Bali dan Bintan merupakan destinasi wisata yang tak asing di mata pelancong mancanegara.

“Keduanya punya daya magnit kuat untuk dikunjungi turis asing seperti Eropa, Singapura, Australia, dan Amerika,” imbuh Henny.

Tak main-main, untuk membangun keduanya, Henny melakukan riset dan observasi guna menghasilkan studi kelayakan mumpuni.

Hasilnya, Kurnia Land memutuskan untuk menginvestasikan dana masing-masing Rp 200 miliar di Bali, dan Rp 300 miliar di Bintan.

Kendati lahan di Bali hanya 1,3 hektar yang mencakup 200 unit, namun mereka merancang kondotelnya dengan konsep resor.

Demikian halnya di Bintan, atau tepatnya Bintan Lagoi. Konsep resor modern akan diadopsi, lengkap dengan fasilitas hutan bakau yang menjadi andalannya.

Ke depan, Kurnia Land akan membangun hotel di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Anyer, Banten. Tak hanya itu, mereka juga akan mengelolanya sendiri di bawah bendera Eminence Hospitality.

GM HRD dan Legal Kurnia Land Andi Syafrullah Alamsyah mengungkapkan, mereka didukung oleh PT Bank Tabungan Negara (persero) Tbk untuk konstruksi finansialnya.

“Setiap proyek mereka mendukung 50 persen pendanaan dengan bunga sekitar 12,5 persen,” sebut Andi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *